Minggu, 18 Oktober 2026
Hot

FAM Masuk Nominasi AFC 2026 di Tengah Sorotan Skandal

FAM masuk nominasi AFC Member Association of the Year 2026 kategori Gold meski sempat tersandung skandal pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain.

Article ad before first paragraph

Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor

HARIANEXPRESS – Asosiasi Sepak Bola Malaysia resmi masuk nominasi penghargaan Konfederasi Sepak Bola Asia tahun 2026 di tengah sorotan sanksi pemalsuan dokumen naturalisasi pemain, Minggu (18/10/2026).

FAM dinominasikan pada kategori Gold untuk penghargaan AFC Member Association of the Year. Federasi asal Malaysia ini bersaing menghadapi Asosiasi Sepak Bola Hong Kong serta Federasi Sepak Bola Seluruh India.

Pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 19 November mendatang. Ajang tersebut menyediakan empat tingkatan penghargaan asosiasi anggota, yakni Platinum, Diamond, Gold, dan Ruby.

Article ad in the middle of article

Sorotan Skandal Naturalisasi Pemain

Pencalonan ini menuai perhatian luas menyusul kasus pemalsuan berkas naturalisasi tujuh pemain yang dibongkar FIFA pada September 2025. Hasil investigasi membuktikan para pemain tersebut tidak mengantongi garis keturunan kakek atau nenek dari Malaysia.

Daftar pemain yang terbukti bermasalah meliputi Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano. Pihak Malaysia sempat mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga, tetapi upaya hukum itu gagal membuahkan hasil.

Menindaklanjuti pelanggaran itu, FIFA menjatuhkan sanksi denda bernilai miliaran rupiah serta melarang ketujuh pemain beraktivitas di dunia sepak bola selama satu tahun. AFC turut menganulir hasil kemenangan kualifikasi Piala Asia 2027 sehingga Malaysia dipastikan gagal melaju ke putaran final kejuaraan tersebut.

Kritik Terbuka dari Warganet dan Pengamat

Keputusan AFC memicu gelombang tanda tanya dari publik sepak bola yang meragukan integritas penilaian tersebut. Sebagian warganet turut mengaitkan posisi Datuk John Paul Windsor selaku Sekretaris Jenderal AFC asal Malaysia dan letak kantor pusat konfederasi di Kuala Lumpur, kendati reaksi warganet tersebut tidak membuktikan adanya hubungan langsung.

Jurnalis ESPN India, Aaditya Narayan, menyuarakan kritik terbuka melalui media sosial.

“Jelas pencalonan AIFF untuk penghargaan ini hanyalah lelucon, tetapi pencalonan Malaysia bahkan lebih parah lagi, mengingat berbagai pelanggaran yang telah dilakukan federasi tersebut selama sekitar satu tahun terakhir,” tulis Aaditya Narayan, jurnalis ESPN India, di X.

Kecaman serupa datang dari jurnalis investigasi olahraga Prancis, Romain Molina, yang menyoroti vonis bersalah pemalsuan dokumen kewarganegaraan.

“AFC ini bercanda: bagaimana mungkin Asosiasi Sepak Bola Malaysia bisa masuk dalam nominasi Asosiasi Terbaik Tahun Ini setelah pada tahun 2025 terbukti bersalah memalsukan kewarganegaraan tujuh pemain? Sepertinya korupsi dan pelanggaran justru makin didorong,” cuit jurnalis investigasi olahraga Prancis, Romain Molina.

Reaksi tajam warganet lainnya turut menuntut transparansi sistem kepemimpinan konfederasi sepak bola kawasan Asia.

“Inilah persis cara kerja AFC, sebuah sarang mafia di dunia sepak bola! Sepak bola Asia tidak akan pernah adil atau transparan selama orang-orang yang sama terus memegang kendali. Benar-benar sialan!,” kecam netizen lain.

Pencalonan Indonesia di Sektor Pembinaan

Sementara itu, Indonesia berhasil mengamankan tempat dalam nominasi AFC pada kategori Bronze untuk sektor pengembangan sepak bola akar rumput. Pada kategori tersebut, Indonesia berada satu kelompok bersama Kamboja dan Myanmar.

Sumber:
  • https://www.detik.com/jabar/sepakbola/d-8711040/fam-masuk-nominasi-penghargaan-afc-skandal-naturalisasi-disorot
Article ad after last paragraph